Tentang cinta di tiap sudut kolong langit
Telpon
Umi: "kok xxxx rak sms opo telpon rene neh? rak ono kabare."
Me : (aq yo gak tahu, aq aja gak nyimpen nomornya--cuma dalam hati) "lagi sibuk mungkin mi...."
Aku tidak hanya sekedar butuh cinta, tetapi juga butuh tangan dimana aku merasa akhiratku aman bersamanya….
Unpredictable

Mengapa datang di saat hidupku sedang tidak teratur? Tetapi, setelah aku membacanya, tanpa kusadari hidupku menjadi lebih teratur lagi. Mungkin ini salah satu pertanda? Ah, entahlah, kupikir saat ini aku bisa benar2 netral dalam menilai dan memutuskan….

Tidak mengetahui walau hanya sekedar nama itu jauh lebih baik……

Tiap hari sudah kulakukan untuk bertanya….*alhamdulillah*

Apapun jawabannya, insya Alloh yang terbaik menurut-Nya….

Aku punya seribu alasan untuk tidak memilihmu, tapi ketika Alloh punya satu alasan saja ketika memilihkan dirimu untuk aku, maka keseribu alasan tadi mendadak tak lagi berarti…..
Aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta, begitu pula membuatku lupa bagaimana rasanya patah hati….
Sabar itu bagiku berwujud dengan diamku….
Kesempatan itu tidak akan pernah datang dua kali, bi…
dan selalunya jawabanmu sudah sangat kuhapal ketika aku tak bisa lagi berkata2 di telpon….

HP bunyi, telpon dari nomor 0281xxxxxx, walau aku tak hapal tapi sangat familiar dengan nomor itu, dari SD nya adikku.
me  : Assalamu’alaykum…..iya mas?
Arsyad : wa’alaykumussalam, mbak….telpon abi ya….

aku sudah tahu apa maksudnya, selalu begini…kalo abi telat njemput…

me  : bentar ya, ditunggu ya, mbak telpon abi ntar…..

heuheuheu, salah satu kenapa aku mempertahankan nomor As ku adalah (walaupun pingin banget ganti) satu2nya nomor hp yang dihapal sama adikku adalah nomor hp ku. jadi kalau minta jemput abi, ya tetep aja telpon mbaknya yang di bandung ini dulu, dan tugasku menelpon abi….

Aku belajar mengenal-Nya darimu…
Aku belajar bersabar darimu…
Aku belajar bersyukur darimu…
Aku belajar menikmati sholat malam darimu…

Tapi kau tak pernah mengajariku bagaimana caranya mengungkapkan isi hati, maka sekali ini saja ayah izinkanlah aku berjalan di atas keputusanku…..

Saya hanya ingin membandingkan antara dua tokoh antara azzam (KCB) dan fahri (AAC). Mereka sama2 terlihat sempurna, tapi masing-masing memiliki cerita cinta yang berbeda. Azzam yang sudah mengikhtiarkan kesana kemari dalam mencari istri, intinya dia susah lah mencari istri, walaupun kalau dipikir2 ‘siapa sih yang gak mau sama dia?’. Sedangkan fahri, terlalu banyak orang yang ngefans dan mau menjadi istrinya. Tapi apakah dengan banyak fansnya seperti itu, dia bahagia? Bahkan sampai-sampai ia harus menerima fitnah beberapa kali karena kebanyakan fans.

Susah mencari istri, maupun kebanyakan fans itu sama-sama ujian, hanya bentuknya saja yang berbeda. Karena kesabarannya, akhirnya azzam pun mendapatkan ana. Karena kesabarannya pula fahri bisa berlepas diri dari fitnah.

Cinta itu terkadang tidak bisa termatematisasi, termasuk ujian dan kenikmatan dari-Nya pun juga tidak bisa.
Alloh itu punya skenario, sayangnya kita tidak pernah tahu skenario itu seperti apa. Puzzle setiap orang berbeda, maka ujian dan kenikmatan setiap orang pun berbeda pula. Apapun itu, itu semua hanyalah untuk menguji kita, apakah layak atau tidak masuk ke dalam surga-Nya….

Aku belajar bersabar darimu, aku pun belajar bertahan darimu.
Tapi akan sampai kapan? Sedang aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada esok atau lusa, bagaimana jika umurku ternyata tak sampai untuk menjemput matahari esok?

Bukan karena aku lelah untuk bersabar, bukan pula karena aku lelah untuk bertahan, tapi memang aku bukanlah orang sebaik yang seperti kau harapkan. Ya, aku hanya hidup di atas doa-doamu, kesabaranku hanyalah buah dari doa-doamu….. dan kuakui pada akhirnya aku telah lelah…

Aku belajar mencintaimu, dari ketiadaan menjadi butir-butir yang senantiasa tersusun seiring waktu. Aku bukanlah apa-apa, mencintaimu adalah proses untuk belajar memaknai hidup, menjadi sesuatu perlu ber-metamorphosis, layaknya ulat menjadi kupu-kupu. Telah dititipkan pada kita, cahaya mata, yang telah dipercayakan untuk kita olah, menjadi tumpuan kelak saat kita kembali selamanya. Ingin kuselipkan dalam goresan ini, sekelumit perjalanan cinta, pengingat rindu dan pengikat hati kita, berdua: Auracinta. Saat kuputuskan untuk mencintaimu: Sepenggal sajak terdengar begitu mesra, menghantarkan anganku menembus ruang waktu yang aku menganggap bahwa diriku telah lancang. Dengan segala keangkuhan rasaku, kutelusuri jejak – jejak waktu yang menggoreskan kenangan tentang benih yang tumbuh, bersemi, berbunga dan layu. Aku telah letih mengukur seberapa jauh perjalanan cintaku. Detik, menit, siang, malam kurasakan bukanlah kesimpulan hakekat rasaku. Aku ingin bersandar dan berlabuh dalam dermaga sunyi dan hening yang disana aku bisa menemukan kedamaian. Dan didirimu aku merasakan itu. (dari awal hingga sekarang Kusimpulkan bahwa : aku mencintaimu) Saat ku niatkan untuk menikahimu: Purnama kurasakan tergambar di wajahmu, dua buah bintang jatuh dan bersemayam dalam indah matamu. Aroma surgawi kurasakan lekat, erat dalam pesonamu. Tutur lembut dalam pemikiran jernih air yang mengalir. (dari awal hingga sekarang Kusimpulkan bahwa : aku ingin menikahimu) Saat kuyakinkan untuk mengolah ladang surga bersamamu: Kubacakan Al – Fatihah untukmu Sebagai pengikat hatiku – hatimu Kubacakan Al – Fatihah untukmu Saat kuyakin Sudah matang benar niatan suciku Kini, Kubacakan Al – Fatihah untukmu Yakin kubertanya : “Maukah engkau menikah denganku ?
Hafidz Mujahid Albiruni
There’s a difference between “love” and “like”. If you like a flower you will pick it, but if you love a flower, you will water it everyday.
Kejantanan seorang lelaki itu, bukan dinilai saat dia berantem dengan lelaki lain. Tetapi saat dia berhadapan dengan lelaki yg disebut bapak, untuk melamar anak gadisnya.
Anak gadis orang. (via nayasa)